• Kanker paru menjadi penyebab kematian nomor satu akibat kanker di Indonesia dengan 30.843 jiwa dan angka kasusnya akan meningkat menjadi 43.900 kasus pada tahun 2030 (meningkat 43%).

  • Hasil penatalaksanaan pasien kanker paru secara umum cukup mengkhawatirkan, dan kemajuannya relatif lambat dibandingkan dengan jenis kanker lainnya.

  • Roche Indonesia bermitra dengan berbagai pihak, berupaya agar kanker paru mendapatkan perhatian politis, klinis, dan publik.

  • Strategi kemitraan baru sangat diperlukan untuk mencari cara baru melakukan penapisan, pencegahan, dan mengatasi kanker baru, serta memperbaiki kesintasan yang sangat ini masih buruk.

 


Jakarta, 18 Desember 2021
— Roche Indonesia dan Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) bermitra untuk hadapi jenis kanker yang paling mematikan di dunia dan di Indonesia.

 

Dengan dukungan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hari ini Ikatan Dokter Indonesia (IDI), The Indonesian Association for the Study on Thoracic Oncology (IASTO), Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dan rumah sakit rujukan kanker, menyelenggarakan sebuah acara gelar wicara virtual bertajuk bertajuk “Lung Cancer Diagnostics & Comprehensive Treatment Care in Indonesia (LIVE)”, yang merupakan pertemuan besar pertama untuk sebuah kemitraan baru antara berbagai asosiasi dan institusi yang berkomitmen untuk menjawab tantangan untuk mengutamakan penatalaksanaan kanker paru.

 

Kanker paru adalah jenis kanker yang paling umum di dunia. Ada lebih banyak kasus kematian karena kanker paru setiap tahunnya, dibandingkan dengan jumlah kematian total yang disebabkan oleh kanker payudara, usus besar, dan prostat. Berdasarkan data Global Burden of Cancer Study (Globocan) 2020, 34.783 orang di Indonesia didiagnosis dengan kanker paru, dengan angka kematian 30.483. Angka ini dapat meningkat 43% dan mencapai 43.900 kasus kematian pada tahun 2030 jika tidak ada peningkatan diagnosis dan penatalaksanaan kanker paru.

 

Setelah di diagnosis, angka kesintasan lima-tahun pada pasien kanker paru termasuk rendah, kurang dari 20% berdasarkan data World Health Organization (WHO). Hal ini sebagian besar disebabkan oleh ketiadaan penapisan dan fakta bahwa dua-pertiga dari pasien baru berkonsultasi ke dokter dengan kondisi lokal ganas atau sudah bermetastasis, sehingga kondisinya sudah tidak dapat disembuhkan sebelum terdiagnosis.

 

“Deteksi dini sangat penting untuk meningkatkan hasil penatalaksanaan kanker paru. Proses ini tidak dapat dipisahkan dari kualitas diagnosis yang komprehensif, dan pemeriksaan oleh tenaga medis profesional,” kata dr. Evlina Suzanna, Sp.PA, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI). “Dengan diperkenalkannya pengobatan presisi yang menargetkan tumor ALK dan EGFR positif pada kanker paru, ada harapan untuk bisa melihat perbaikan pada kesintasan pasien tanpa ada perburukan pada kankernya sendiri.”

 

“Dengan gotong royong, mari kita bersama mewujudkan pelayanan kesehatan berkualitas dan berkeadilan sosial. Mari juga bersama mengawal sustainabilitas program JKN,” ungkap Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D., AAK, Direktur Utama BPJS Kesehatan. “Seluruh pimpinan BPJS Kesehatan beserta seluruh jajaran berkomitmen untuk terus-menerus memberikan kinerja terbaik dan bekerja sama dengan seluruh stakeholder untuk mewujudkan penyelenggaraan jaminan kesehatan yang semakin baik bagi seluruh peserta JKN,” lanjutnya.

 

Prof. dr. Abdul Kadir, Ph.D., Sp.THT-KL(K), MARS, Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI menyoroti upaya pemerintah untuk meningkatkan kontrol dan manajemen kanker secara nasional. “Tujuan utama kami adalah memastikan bahwa semua penduduk mendapat pelayanan kesehatan yang berkualitas dan merata di seluruh Indonesia, termasuk penanganan untuk kanker paru.” Beliau juga menekankan bahwa kolaborasi antar pemangku kepentingan juga berperan penting dalam proses ini. “Melakukan sesuatu bersama-sama, yang tidak bisa dilakukan sendiri, adalah strategi baru kami. Karena itu, kami sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) dan Roche Indonesia,” ungkapnya.

 

Kanker paru masih terus menjadi tantangan, baik dalam ranah klinis maupun riset. Dikembangkannya imunoterapi kanker - sebuah pilihan penanganan baru - bersama dengan penanganan lain yang sudah ada, memberikan harapan bagi pasien dan keluarganya.

 

“Di Roche, kami berkomitmen untuk menjawab kebutuhan medis bagi semua pasien kanker paru di Indonesia,” kata dr. Ait-Allah Mejri, Presiden Direktur PT Roche Indonesia. “Kombinasi kekuatan dari divisi diagnostik dan farmasi kami memberikan peluang bagi kami untuk berperan penting menyediakan tes diagnostik penyerta dan personalisasi perawatan kesehatan yang sesungguhnya bisa diterapkan.”

 

Lung Cancer Diagnostics & ComprehensJakarta, 18 Desember 2021 — Roche Indonesia dan Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) bermitra untuk hadapi jenis kanker yang paling mematikan di dunia dan di Indonesia.

 

Dengan dukungan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hari ini Ikatan Dokter Indonesia (IDI), The Indonesian Association for the Study on Thoracic Oncology (IASTO), Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dan rumah sakit rujukan kanker, menyelenggarakan sebuah acara gelar wicara virtual bertajuk bertajuk “Lung Cancer Diagnostics & Comprehensive Treatment Care in Indonesia (LIVE)”, yang merupakan pertemuan besar pertama untuk sebuah kemitraan baru antara berbagai asosiasi dan institusi yang berkomitmen untuk menjawab tantangan untuk mengutamakan penatalaksanaan kanker paru.

 

Kanker paru adalah jenis kanker yang paling umum di dunia. Ada lebih banyak kasus kematian karena kanker paru setiap tahunnya, dibandingkan dengan jumlah kematian total yang disebabkan oleh kanker payudara, usus besar, dan prostat. Berdasarkan data Global Burden of Cancer Study (Globocan) 2020, 34.783 orang di Indonesia didiagnosis dengan kanker paru, dengan angka kematian 30.483. Angka ini dapat meningkat 43% dan mencapai 43.900 kasus kematian pada tahun 2030 jika tidak ada peningkatan diagnosis dan penatalaksanaan kanker paru.

 

Setelah di diagnosis, angka kesintasan lima-tahun pada pasien kanker paru termasuk rendah, kurang dari 20% berdasarkan data World Health Organization (WHO). Hal ini sebagian besar disebabkan oleh ketiadaan penapisan dan fakta bahwa dua-pertiga dari pasien baru berkonsultasi ke dokter dengan kondisi lokal ganas atau sudah bermetastasis, sehingga kondisinya sudah tidak dapat disembuhkan sebelum terdiagnosis.

 

“Deteksi dini sangat penting untuk meningkatkan hasil penatalaksanaan kanker paru. Proses ini tidak dapat dipisahkan dari kualitas diagnosis yang komprehensif, dan pemeriksaan oleh tenaga medis profesional,”
kata dr. Evlina Suzanna, Sp.PA, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI). “Dengan diperkenalkannya pengobatan presisi yang menargetkan tumor ALK dan EGFR positif pada kanker paru, ada harapan untuk bisa melihat perbaikan pada kesintasan pasien tanpa ada perburukan pada kankernya sendiri.”

 

“Dengan gotong royong, mari kita bersama mewujudkan pelayanan kesehatan berkualitas dan berkeadilan sosial. Mari juga bersama mengawal sustainabilitas program JKN,” ungkap Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D., AAK, Direktur Utama BPJS Kesehatan. “Seluruh pimpinan BPJS Kesehatan beserta seluruh jajaran berkomitmen untuk terus-menerus memberikan kinerja terbaik dan bekerja sama dengan seluruh stakeholder untuk mewujudkan penyelenggaraan jaminan kesehatan yang semakin baik bagi seluruh peserta JKN,” lanjutnya.

 

Prof. dr. Abdul Kadir, Ph.D., Sp.THT-KL(K), MARS, Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI menyoroti upaya pemerintah untuk meningkatkan kontrol dan manajemen kanker secara nasional. “Tujuan utama kami adalah memastikan bahwa semua penduduk mendapat pelayanan kesehatan yang berkualitas dan merata di seluruh Indonesia, termasuk penanganan untuk kanker paru.” Beliau juga menekankan bahwa kolaborasi antar pemangku kepentingan juga berperan penting dalam proses ini. “Melakukan sesuatu bersama-sama, yang tidak bisa dilakukan sendiri, adalah strategi baru kami. Karena itu, kami sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) dan Roche Indonesia,” ungkapnya.

 

Kanker paru masih terus menjadi tantangan, baik dalam ranah klinis maupun riset. Dikembangkannya imunoterapi kanker - sebuah pilihan penanganan baru - bersama dengan penanganan lain yang sudah ada, memberikan harapan bagi pasien dan keluarganya.

 

“Di Roche, kami berkomitmen untuk menjawab kebutuhan medis bagi semua pasien kanker paru di Indonesia,” kata dr. Ait-Allah Mejri, Presiden Direktur PT Roche Indonesia. “Kombinasi kekuatan dari divisi diagnostik dan farmasi kami memberikan peluang bagi kami untuk berperan penting menyediakan tes diagnostik penyerta dan personalisasi perawatan kesehatan yang sesungguhnya bisa diterapkan.”

 

Lung Cancer Diagnostics & Comprehensive Treatment Care in Indonesia (LIVE)” adalah langkah pertama dari upaya kolaboratif baru untuk mengubah arah perkembangan kanker paru dan membuat perubahan yang mendasar pada kehidupan banyak orang di Indonesia.

 

 

 

M-ID-00000422-12-2021