Roche Fair 2021: Digitalisasi Efisiensikan Layanan Kesehatan di Era Pandemi

  • Pandemi Covid-19 berperan penting dalam mendorong terjadinya transformasi industri kesehatan lewat digitalisasi. Solusi inovatif digital pada pelayanan kesehatan akan menjadi sebuah kebutuhan baru.

  • Inovasi digitalisasi pelayanan kesehatan di era pandemi merupakan topik bahasan utama pada rangkaian Roche Fair hari pertama yang berlangsung secara daring pada 12-13 November 2021.

 

 

Jakarta, 12 November 2021 – Transformasi industri kesehatan yang didorong oleh digitalisasi selama 20 bulan masa pandemi mengindikasikan pergeseran preferensi pasien dalam mendapatkan layanan kesehatan. Angka pengguna platform layanan kesehatan digital bahkan meningkat lebih dari 70 persen dibanding dengan periode prapandemi. Secara bersamaan, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) mencatat penurunan kunjungan pasien non-Covid-19 ke rumah sakit hingga 80 persen. Topik digitalisasi infrastruktur kesehatan tersebut menjadi pokok bahasan utama pada hari pertama Roche Fair 2021 yang berlangsung secara daring.

“Kebutuhan terhadap sistem kesehatan akan terus meningkat, dan seperti yang terlihat saat pandemi, dibutuhkan adopsi jangka panjang pada layanan perawatan yang lebih efisien dan efektif. Teknologi digital dapat membantu mengatasi tantangan yang dihadapi layanan kesehatan sekaligus menghubungkan pasien, profesional perawatan kesehatan, pembayar, dan pembuat kebijakan dengan cepat,” kata Managing Director Roche Diagnostics Asia Pacific Lance Little.

Lance menjelaskan, Roche bekerja sama dengan fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) dan pemerintah untuk terus melakukan inovasi dan pengembangan teknologi klinis. Menurutnya, layanan kesehatan harus menggabungkan pendekatan berbasis sains, data, dan teknologi. Bagi tenaga kesehatan, hal ini memungkinkan proses pengambilan keputusan lebih akurat dalam jeda waktu lebih singkat. Bagi pasien, down time yang dialami dalam proses pemeriksaan berkurang dan pengobatan bisa didapatkan dengan lebih cepat.

“Solusi untuk ciptakan efisiensi efektifitas layanan yang berujung pada keselamatan pasien maupun nakes di RS adalah menggunakan digitalisasi. Masa pandemi ternyata menimbulkan inovasi terobosan dalam hal digitalisasi RSCM yang dibangun sejak beberapa tahun terakhir. Salah satu perubahan yang paling kami rasakan adalah dengan sistem pendaftaran online dan pendaftaran terpadu mulai dari rawat jalan yang terintegrasi ke layanan admisi, penunjang dan lain-lain telah memangkas secara signifikan waktu tunggu pasien.  Dengan sistem itu kita juga lebih baik dalam mengontrol protokol kesehatan selama pandemi.  Hasilnya, antrian di rumah sakit tidak lagi terlalu menumpuk dan dapat diatur jaga jarak. Ketika pasien dan tenaga kesehatan menjadi pihak yang sama-sama rentan, digitalisasi telah memberikan kemudahan bagi kami untuk bekerja dengan lebih cepat dan akurat untuk memberikan pelayanan yang terbaik. Telekonsultasi SiapDok merupakan terobosan dengan memastikan kedaulatan data menjadi kunci, semua pasien terhubung dengan rekam medik sehingga bisa dilakukan telusur oleh surveyor dan ditangani professional oleh dokter  yg memiliki SIP ataupun perawat, apoteker dan nakes lain di RS kami. Dengan digitalisasi Rumah Sakit menuju pada layanan yang lebih baik dan smart,” ujar General Director RS Cipto Mangunkusumo dr. Lies Dina Liastuti, Sp.JP(K), MARS, FIHA.

Chief Information Officer PT Siloam International Hospitals Tbk Ryanto Marino Tedjomulja mengungkapkan, fasilitas kesehatan menanggung peningkatan biaya operasional dan kebutuhan pelayanan selama pandemi berlangsung agar tetap aman, standar, dan bermutu. Penerapan inovasi teknologi dalam kegiatan operasional rumah sakit sehari-hari, dinilai dapat mengurangi peningkatan biaya-biaya tersebut tanpa mengurangi kualitas pelayanan.

“Selama pandemi banyak pasien yang takut untuk ke rumah sakit. Untuk itu, berbagai terobosan telah kami lakukan agar pelayanan dapat tetap optimal, salah satunya dengan memperkuat platform MySiloam app untuk proses pendaftaran pasien, pembayaran medical checkup, melakukan teleconsultation dengan dokter, dan mendapatkan hasil lab maupun riwayat pengobatan secara digital. Digitalisasi yang kami lakukan juga memudahkan pasien dalam mendapatkan fasilitas homecare. Selain itu sistem digitalisasi juga dilakukan untuk pemeriksaan tes- tes yang berhubungan dengan Covid-19, sehingga pasien dapat dengan mudah memesan layanan dan mendapatkan hasil melalui platform digital sehingga tidak perlu lagi datang kembali ke Rumah Sakit. Digitalisasi adalah hal yang perlu dan sangat mungkin untuk dilakukan oleh penyedia kesehatan, opportunity kita semua untuk berkembang masih sangat besar”, jelas Ryanto Marino Tedjomulja.

 

Kesehatan Inklusif

Seluruh terobosan di bidang kesehatan tersebut berhasil meringankan beban pasien. Namun, diperlukan komitmen para pemangku kepentingan di sektor pemerintah, industri, dan komunitas untuk memastikan kemudahan dari infrastruktur digital dapat dinikmati oleh masyarakat luas, terlepas dari latar belakang sosial dan ekonomi.

“Telemedisin bisa membantu masyarakat mendapatkan askes layanan kesehatan di saat sedang terjadi overload capacity di rumah sakit, dan juga membantu masyarakat untuk lebih proaktif terhadap manajemen kesehatan dirinya. Kolaborasi layanan adalah hal yang penting dan perlu dilaksanakan.  Integrasi data dengan berbagai pemangku kepentingan juga tentunya akan terhubung dengan lebih mudah.  Untuk implementasi hal serupa tentu membutuhkan tidak hanya regulasi dari pemerintah, namun juga kesiapan infrastuktur dan teknologi dan juga tenaga yang ada, sehingga fasyankes dapat memberikan layanan telemedisin juga,” jelas Head of Medical Good Doctor Technology Indonesia dr. Adhiatma Gunawan.

“Meskipun ada potensi luar biasa, manfaat paling nyata yang ditawarkan digitalisasi pada sistem kesehatan adalah kesempatan untuk mewujudkan visi mereka tentang perawatan proaktif dan pencegahan,” tutup Lance.