Telementoring ECHO: Mewujudkan Tata Laksana Kanker Melalui Berbagi Ilmu Praktik Terbaik dan Kolaborasi Multipihak

 
  • Model telementoring ECHO menggunakan pendekatan pembelajaran berbagi pengetahuan antara ahli di rumah sakit pengampu (hub) dan klinisi di rumah sakit yang diampu (spoke) seputar kasus-kasus kanker yang pernah ditangani.

  • Di Indonesia, pelatihan model ECHO diinisiasi oleh Pusat Kanker Nasional RS Kanker Dharmais dan didukung oleh Kementerian Kesehatan, serta bekerja sama dengan Roche Indonesia, guna meningkatkan akses dan kualitas penatalaksanaan kanker secara nasional.

  • Model telementoring ECHO telah berjalan sejak akhir 2021 di Indonesia untuk kanker payudara, kanker anak, dan deteksi dini kanker payudara. Tim ECHO Global dari University of New Mexico melakukan observasi langsung terhadap implementasi program

 

 

Jakarta, 30 Juni 2022 — Representatif ECHO Institute dari University of New Mexico mengunjungi Pusat Kanker Nasional RS Kanker Dharmais dan sejumlah mitra kerja lainnya untuk mengobservasi langsung implementasi program Extension for Community Health Outcomes (ECHO) di Indonesia, dalam upaya peningkatan hasil penatalaksanaan kanker di Indonesia. Kunjungan ini juga diikuti forum diskusi berbagi informasi dan praktik terbaik (best practice) berdasarkan studi kasus atau insights yang didapatkan dari negara-negara lainnya. Model telementoring ECHO ini adalah bagian dari Project ECHO, program kemitraan strategis untuk meningkatkan akses dan kualitas penanganan kanker, dan juga mendorong akselerasi pengembangan jejaring kanker nasional.

 

Program telementoring ECHO menggunakan pendekatan berbagi pengetahuan antara ahli di rumah sakit pengampu (hub) dan klinisi di daerah yang diampu (spoke) seputar kasus-kasus kanker yang ditangani sebelumnya. Prinsip pembelajaran model ECHO memberdayakan teknologi untuk mengatasi keterbatasan sumberdaya (Amplification), berbagi Best practices untuk mengurangi kesenjangan, belajar dengan Case-based learning dan memonitor hasil pembelajaran dengan web-based Database. Harapannya, kapasitas tenaga medis di seluruh wilayah dapat terus bertumbuh, sehingga pasien bisa menerima perawatan kanker yang tepat dan cepat di mana pun mereka berada di Indonesia.

 

“Program telementoring ECHO ini sangat baik dan ditunggu-tunggu untuk kita melakukan transformasi kesehatan. Kami mendorong kolaborasi aktif antara pemerintah, publik, dan swasta untuk terus berupaya mendorong akselerasi pengembangan deteksi dini dan pengobatan kanker,” ungkap drg. Arianti Anaya, M.K.M., Direktur Jenderal Tenaga Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. “Untuk itu, kami sangat mengapresiasi inisiatif dan kolaborasi yang baik bersama Pusat Kanker Nasional RS Kanker Dharmais dan Roche Indonesia selama menjalankan Project ECHO di Indonesia. Seiring berjalannya program ini, kami berharap lebih banyak lagi tenaga kesehatan dan rumah sakit yang turut berpartisipasi dan mengadopsi program telementoring ECHO untuk penanganan kanker, dan semoga ke depannya dapat berkembang juga untuk penyakit lain.”

 

Saat ini, jumlah dokter spesialis penyakit hematologi-onkologi medik di Indonesia hanya berjumlah 188 orang, dan spesialis bedah onkologi hanya berjumlah 202 orang. Angka ini sangat jauh di bawah kebutuhan masyarakat Indonesia akan bantuan terhadap kanker, yaitu sekitar 0,07 dari 100 ribu penduduk. Jumlah ini juga masih tergolong sangat rendah dibandingkan dengan jumlah yang direkomendasikan oleh UK Royal College of Physician, yaitu sebesar 1,42 untuk tiap 100 ribu penduduk. Selain itu, tidak hanya jumlah tenaga medis profesional yang tidak merata di geografis Indonesia, namun dengan terus berkembangnya teknologi tapi tidak didukung dengan pembaharuan fasilitas dan informasi di wilayah-wilayah kecil, juga mengakibatkan keterbatasan dalam penanganan pasien kanker.

 

Sebenarnya, program telementoring ECHO ini dapat dikatakan sebagai kendaraan yang cepat untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam melayani pasien kanker di fasilitas kesehatan. Pada praktiknya, tim ahli akan memberikan pendampingan klinis secara virtual, meningkatkan kapasitas bagi penyedia layanan kesehatan agar dapat melakukan penanganan terbaik bagi masyarakat yang belum terlayani di wilayahnya. Dengan demikian, pasien kanker yang berada pada wilayah dengan akses terbatas tersebut, tetap bisa mendapatkan pertolongan atau perawatan pertama dan secukupnya, sebelum atau tanpa perlu dirujuk ke rumah sakit yang lebih mumpuni untuk tindakan lebih lanjut.

 

“Selama menjalankan telementoring ECHO, kami belajar banyak baik dari sesi yang berjalan maupun dari pengalaman berbagai negara. Salah satu hal mendasar yang penting bagi keberhasilan intervensi telementoring ECHO adalah adanya pola pikir (mindset) bahwa telementoring ECHO adalah proses pembelajaran terus-menerus, dan didukung sepenuhnya baik oleh manajemen rumah sakit, para ahli (subject matter expert) serta adanya dukungan kebijakan dari pemerintah,” terang dr. R. Soeko Werdi Nindito D., M.A.R.S., Direktur Utama RS Kanker Dharmais. “Oleh sebab itu, kami sangat berharap semua mitra kerja bisa melihat manfaat telementoring ECHO serta bekerja sama sebaik-baiknya, agar pelaksanaannya bisa berdampak terhadap kualitas layanan serta hasil penatalaksanaan kanker di Indonesia.”

 

Sejak diluncurkan tujuh bulan lalu, beberapa program telah berhasil dijalankan dengan menggunakan metode telementoring ECHO, di antaranya: 1) ECHO kanker payudara, dengan pendekatan diagnosis Multi Disciplinary Team (MDT); 2) ECHO kanker anak (acute leukimia), dengan pendekatan diagnosis MDT; dan 3) ECHO deteksi dini kanker payudara, sebuah proyek percontohan (pilot project) di Kabupaten Tangerang yang merupakan kolaborasi antara Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan Komunitas Peduli Kanker Payudara (KPKP). Program 1 dan 2 diikuti oleh 15 rumah sakit spoke dengan jumlah peserta sekitar 60-80 orang setiap sesi; dan program 3 merupakan program pelatihan terstruktur yang melibatkan 100 peserta tenaga kesehatan, kader kesehatan, dan awam di 2 Puskesmas dan RSU Kabupaten Tangerang yang juga didukung oleh pemerintah daerah.

 

Pada pelaksanaannya, program telementoring ECHO memiliki kaidah-kaidah tertentu yang perlu ditaati, dan menuntut persiapan yang matang dari pihak yang mengikuti, agar luaran atau hasil akhir yang diharapkan dapat tercapai dengan baik. Saat ini, standarisasi metodologi dari sistem telementoring ini beserta perangkatnya (playbook) juga tengah dikembangkan guna mendukung penerapan program yang terus terjaga kualitasnya.

 

“Kolaborasi berkelanjutan dengan Kementerian Kesehatan dan RS Kanker Dharmais untuk program telementoring ECHO ini merupakan perwujudan Roche untuk bermitra dengan para pemangku kepentingan, untuk memperkuat ekosistem kesehatan di Indonesia dengan upaya memperluas akses terhadap pelayanan kesehatan yang inovatif,” kata dr. Ait-Allah Mejri, Presiden Direktur PT Roche Indonesia. “Kami berharap kerja sama ini akan terus berkembang dan didukung sepenuhnya dengan kebijakan pemerintah untuk mendorong keberlanjutan telementoring ECHO bagi peningkatan luaran penatalaksanaan kanker di Indonesia.”

 


Cynthia McKinney, M.A., Director of Corporate and Foundation Relations, Project ECHO®, University of New Mexico Health Sciences Center, turut menyampaikan, “Pembelajaran dari lebih 50 negara yang menerapkan model telementoring ECHO menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi Project ECHO pada akhirnya akan berdampak terhadap luaran penatalaksanaan penyakit terutama di daerah. Tahap awal pelaksanaan telementoring ECHO di Indonesia cukup menggembirakan. Oleh sebab itu kami menyampaikan penghargaan kepada semua pihak yang terlibat didalamnya. Kami berharap adanya konsistensi dukungan dari semua pihak, agar pembelajaran ini benar-benar dapat berdampak terhadap pasien di Indonesia.”

 

 

M-ID-00000583-06-2022